Dalam membangun sebuah bisnis startup, hal yang paling utama yang harus dilakukan adalah selesaikan masalah, jangan memulai bisnis terlebih dahulu. Jadi pikirkan bagaimana bisnis yang kita buat dapat menyelesaikan masalah - masalah yang ada di sekitar kita. Kita beruntung lho hidup di Indonesia, negara yang memiliki sejuta peluang dan potensi, akan tetapi banyak sekali masalah mendesak yang harus diselesaikan. Setelah kita menemukan masalah, hal selanjutnya tentunya kita butuh yang namanya validasi bukan hanya asumsi, banyak sekali startup yang gagal karena masalah ini, banyak yang pandai membuat solusi, tetapi belum banyak yang menerjemahkan masalah dengan presisi. Tidak semua masalah butuh aplikasi, ada yang memang bagian dari proses, dan ada yang memang butuh solusi. Segala bisnis yang matang tidak dimulai dengan sebuah asumsi, gunakan data saat validasi. Lalu salah satu solusi yang tepat dalam memvalidasi sebuah ide startup adalah dengan bergabung ke dalam sebuah komunitas, di komunitas kita bisa mendiskusikan ide yang kita miliki agar kita mengetahui lebih dalam permasalahan yang ingin kita selesaikan. Lalu di komunitas kita juga bisa menemukan seseorang dengan visi yang sama dengan kita, dengan begitu kita bisa membangun relasi didalam sebuah komunitas.
Didalam sebuah komunitas kita bisa menambah skill dalam berorganisasi, banyak sekali startup yang memiliki tim dengan keahlian yang mumpuni disetiap posisinya tetapi kurangnya skill berorganisasi menjadikan startup tersebut gagal, kurang lebih begitu yang dikemukakan oleh Zam Arianto founder dari Sedekah Ilmu.
Bagaimana cara membentuk Tim dalam proyek startup kita? dalam membentuk sebuah Tim yang terpenting adalah sama - sama memiliki visi dan semangat yang sama. Startup sendiri diawali dengan semangat bersama untuk memecahkan sebuah permasalahan bukan profit oriented, dan salah satu tugas Founder nantinya adalah menggali potensi dari team yang dimiliki.
Beberapa orang mungkin berpikir dalam membuat startup, uang adalah hal yang terpenting. jadi membuat mereka berfokus pada pendanaan dari investor. Dalam hal ini uang memanglah penting, tetapi yang menjadi fokus kita jangan ke uangnya dulu. Yang pertama kita lihat perlu atau tidak pendanaan tersebut untuk kebutuhan startup kita, kalau dirasa tidak mengerti, scalling saja dulu bagaimana dan kebutuhan apa saja yang diperlukan. kalau dirasa tidak perlu ya mending menggunakan pendanaan secara mandiri (bootstraping), tetapi jangan menjadikan fitur dari startup sebagai objek pencarian dana, dan memaksakan startupnya untuk menghasilkan uang secepat mungkin, apalagi startup yang baru berkembang, seperti halnya bayi yang baru lahir, bayi butuh digendong, disuapin, diajarkan bicara dan berjalan, jangan dipaksa bayi untuk mencari makan sendiri, atau malah mengasih makan pendirinya, mungkin kodratnya seperti itu. Pastinya semuanya ada polanya, seperti kita menanam padi, tidak mungkin dong kita memanen dalam hitungan hari.

Mungkin itu pemahaman saya tentang startup, ini semua saya peroleh dalam sebuah seminar yang bernama Ignition, yang digelar oleh Gerakan Nasional 1000 Startup Digital di Surabaya beberapa waktu yang lalu. Dan saya rasa semua orang bisa untuk membentuk sebuah startup, asal ada niat yang tulus, pola pikir yang benar, serta kemauan yang besar.
See you next article, dan Salam Programmer Indonesia!

0 komentar